Anda Menolak Untuk Naik?
Hampir tidak ada seorang karyawan pun yang menolak, jika gajinya dinaikkan. Juga mungkin tidak ada seorang PNS pun yang menolak, jika golongan kepangkatannya dinaikkan. Tapi berbeda halnya jika harus menerima kenyataan tentang kenaikan berikut ini, yaitu terjadinya kenaikan harga.
Entah sudah diatur atau pun tidak, seperti sudah menjadi budaya ekonomi bisnis yang sulit dirubah jika memasuki bulan ramdhan dan menjelang lebaran Idul Fitri, banyak harga barang dan jasa yang melonjat naik beberapa kali lipat.
Lihat saja misalnya, mulai dari harga tiket semua armada transpormasi darat laut, semuanya naik, seperti tiket pesawat, tiket kereta api dan bis naik, serta tiket truk pengangkut barang juga ikutan naik.
Harga diri apa juga ikutan naik ya...? Yang pasti beberapa tempat lokalisasi PSK (Pekerja Seks Komersial) di beberapa wilayah tertentu, baik yang legal maupun ilegal, terutama di pusat-pusat berbasis FPI kuat, lokalisasi dirazia massa FPI, SatPol PP, dan aparat polisi. Kesulitan tersebut, apakah akan membuat para PSK ini menaikkan tarip harga dirinya.....
Ya, memang kalau naik jabatan tidak ada yang nolak, akan tetapi sudah pasti, masyarakat miskin akan menolak, jika harga kebutuhan pokok masyarakat (Basic Needs) harus naik. Apalagi jika mengingat kebiasaan budaya ekonomi bisnis di Indonesia, "jika suatu produk sudah naik, maka kecendrungannya akan terus bertambah naik bukannya menurun".
Lihat saja contohnya, harga BBM kita saat ini. Setelah harganya naik, apakah kemudian turun? Subsidi BBM dari pemerintah yang menurut katanya Para Pakar Ekonom untuk membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Kenyataannnya, akibat harga BBM naik, semua hal ikut-ikutan naik.
Tarik nafas sekali lagi, itulah nasib rakyat miskin...